LOCUSonline, GARUT - Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Garut mulai memperluas layanan administrasi kependudukan hingga ke rumah-rumah warga rentan. Lewat program bernama Pelayanan Administrasi Kependudukan Jemput ke Rorompok (Pajero), petugas kini mendatangi langsung warga yang kesulitan mengurus dokumen, termasuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Di tengah birokrasi yang biasanya akrab dengan antrean, map fotokopi dan kalimat "silakan datang lagi besok" program ini mencoba membalik keadaan dimana negara yang datang ke warga, bukan warga yang dipaksa mengejar negara.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Garut, Rena Sudrajat, mengatakan program Pajero menjadi salah satu upaya agar seluruh masyarakat bisa memiliki administrasi kependudukan secara lengkap, termasuk kelompok rentan yang selama ini sulit terjangkau layanan publik.
"Kita ada program Pajero, jadi petugas nanti akan datang ke rumah warga, salah satu sasarannya melayani administrasi kependudukan ODGJ," ujar Rena di Garut, Jumat.
Menurutnya, kepemilikan dokumen seperti KTP dan Kartu Keluarga bukan sekadar formalitas administrasi. Bagi ODGJ, dokumen tersebut menjadi tiket utama untuk mendapatkan layanan kesehatan, termasuk pengobatan di rumah sakit jiwa dan akses kepesertaan BPJS Kesehatan.
"Pelayanan ini penting bagi mereka karena nanti juga perlu, salah satunya untuk berobat ke rumah sakit jiwa, dan itu butuh KTP dan KK," katanya.
Program Pajero sendiri disebut merupakan instruksi langsung dari Bupati Garut agar pelayanan administrasi tidak hanya berhenti di kantor pemerintahan, tetapi benar-benar menyentuh warga hingga pelosok kampung.
Sasarannya bukan hanya ODGJ, tetapi juga penyandang disabilitas dan warga lanjut usia yang kesulitan datang langsung ke kantor pelayanan.
"Masyarakat rentan itu kan kesulitan jika harus datang ke kantor, makanya kita lakukan jemput bola datang langsung ke rumahnya," kata Rena.
Baca Juga: Program RTLH Garut 2026: Rapat Virtual Tiga Hari, Harapan Rumah Layak Tak Sekadar Zoom Meeting
Dalam praktiknya, petugas sering menghadapi situasi yang tidak sederhana. Ada ODGJ yang tinggal dalam kondisi terisolasi di rumah, ada pula yang berkeliaran di lingkungan sekitar sehingga proses perekaman data menjadi tantangan tersendiri.
Petugas bahkan harus bekerja sama dengan keluarga, aparat desa, hingga ketua RT dan RW agar proses pembuatan identitas bisa berjalan lancar.
"Terkadang kita kerja sama dengan keluarganya, pihak keluarga bertanggung jawab membujuknya, bahkan melibatkan pemerintah desa, RT, RW untuk perekamannya," ujarnya.
Proses administrasi untuk ODGJ juga tidak selalu mudah. Mulai dari pengambilan foto, rekam sidik jari, hingga pemindaian retina mata sering membutuhkan waktu lebih lama karena kondisi pasien yang sulit diarahkan.
Artikel Terkait
Lansia Terlantar di Garut Jadi Bola Panas: DPRD Soroti Kinerja Dinsos yang Dinilai Lambat Tanggap
Hari Otonomi Daerah ke-30 di Garut, Daerah Diminta Mandiri Tapi Masih Belajar Berdiri
TPT Ambruk di Garut Usai Hujan Deras, Warga Jadi Tim Reaksi Cepat Dadakan
May Day di Bandung Mencekam: Massa 'Hitam' Susup Demo Mahasiswa, Pos Polisi Dirusak!
May Day 2026 Garut: Buruh Sampaikan Tuntutan, Bupati Janji "Sedikit-Sedikit" Direalisasikan
Pameran Foto Frame of Garut Dibuka Bupati, Keindahan Alam Siap Viral Asal Tidak Hanya Disimpan di Galeri Mall
Palang Pintu Otomatis Dikebut di Jawa Barat Usai Tragedi Bekasi, Keselamatan Kini Tak Lagi Mengandalkan Perasaan
Hujan Deras Robohkan Rumah di Malangbong Garut, Gotong Royong Lebih Sigap dari Infrastruktur
IPM Garut Peringkat Juru Kunci di Jawa Barat, Bupati Akui Kejar Ketertinggalan Tak Semudah Mengucapkannya
Fun Bike Garut 2026 Diramaikan 800 Peserta, Target 2.000 tidak Tercapai Mungkin Kurang Promosi