FGD itu diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh pesantren, organisasi kepemudaan, hingga perwakilan kecamatan. Semua sepakat satu hal: menyelamatkan generasi muda lebih penting daripada sibuk menghitung berapa banyak baliho motivasi yang dipasang di pinggir jalan.
Di tengah era ketika sebagian remaja berlomba menjadi konten kreator, ternyata masih ada ancaman nyata yang bergerak diam-diam di balik etalase obat ilegal. Garut kini dihadapkan pada pilihan sederhana, bergerak cepat atau menunggu masalah sosial berubah jadi bencana generasi.*****
Artikel Terkait
Musim Kemarau Diprediksi Panjang, Pemkab Garut Siapkan 95 Pompa Air: Sawah Jangan Sampai Tinggal Kenangan
Cetak Sawah Baru 100 Hektare di Garut, Tanah Kosong Disulap Jadi Harapan Swasembada Pangan
Program Pajero Disdukcapil Garut: Saat Petugas Jemput Bola demi KTP ODGJ yang Selama Ini Tak Terlihat Negara
Libur Sekolah Bukan Rebahan: Anak-Anak Desa Cikadongdong Pilih Angkat Batu Demi Jalan Kampung Agar Tak Lagi Mirip Kubangan
Pondok Pesantren di Garut Diserbu Massa, Dugaan Kekerasan Seksual Guru Ngaji Picu Amarah Warga
Jalan Desa Mekarmulya Dibangun Gotong Royong: Saat Warga Bergerak, Aspal Tak Lagi Sekadar Janji Musiman
TMMD Kodim 0611 Garut Bangun Jalan Desa Mekarmulya: Kini Kakek Pengrajin Gula Aren Tak Lagi Bertaruh Nyawa di Jalan Licin
FKRWG Garut Luncurkan Aplikasi Asdes: Saat RT dan RW Mulai Masuk Era Digital, Warga Tak Lagi Harus Fotokopi Surat Berkali-kali
Remaja Desa Mekarmulya Pilih Angkut Batu untuk TMMD daripada Sibuk Joget Konten Media Sosial
HUT Kota Jambi ke-80: Janji Program Sosial Ikut Berbaris di Lapangan Upacara Sampai Pemberian Beasiswa Bagi 3.000 siswa kurang mampu