LOCUSonline, GARUT - Di saat sebagian anak seusianya menghabiskan libur tanggal merah dengan bermain gim, rebahan, atau sibuk membuat konten media sosial, sejumlah pelajar di Desa Cikadongdong justru memilih aktivitas yang lebih membumi dengan turun langsung membantu pembangunan jalan desa.
Dengan penuh semangat, anak-anak sekolah tersebut ikut bergotong royong di lokasi pengerjaan jalan. Mereka membantu mengangkat batu, menurunkan material sirtu hingga menyusun bebatuan untuk memperkuat struktur jalan yang tengah dibangun.
Pemandangan itu sontak menjadi perhatian warga. Di tengah zaman ketika generasi muda sering dituduh lebih akrab dengan layar ponsel dibanding lingkungan sekitar, anak-anak Desa Cikadongdong justru memperlihatkan bahwa kepedulian sosial belum sepenuhnya punah ditelan sinyal WiFi.
Tanpa komando resmi dan tanpa upah proyek, mereka datang membawa tenaga dan semangat kebersamaan. Sebagian terlihat berkeringat mengangkut material, sementara yang lain membantu merapikan susunan batu agar jalan desa lebih padat dan layak dilalui warga.
Kehadiran mereka bukan hanya membantu pekerjaan fisik, tetapi juga menjadi suntikan moral bagi warga dan pekerja di lapangan. Jalan yang sedang dibangun itu kini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat desa.
Salah seorang tokoh desa mengaku bangga melihat keterlibatan anak-anak tersebut dalam pembangunan lingkungan mereka sendiri.
"Saya sangat bangga dan tersentuh melihat semangat anak-anak Desa Cikadongdong. Di waktu libur, mereka tidak hanya bersenang-senang, tapi memilih ikut membantu pembangunan jalan ini," ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial seperti ini menjadi bukti bahwa rasa memiliki terhadap desa mulai tumbuh sejak dini. Di tengah derasnya budaya individualisme modern, sikap gotong royong itu dianggap sebagai modal sosial yang semakin langka.
"Ini bukti nyata bahwa kepedulian terhadap desa sudah tumbuh sejak dini," lanjutnya.
Baca Juga: TMMD Garut Bangun Sumur Bor: Air Bersih Akhirnya Tidak Lagi Jadi Barang Mewah Warga Desa
Fenomena tersebut juga menjadi sindiran halus bagi sebagian orang dewasa yang kerap rajin mengeluh soal kondisi jalan, tetapi mendadak sibuk ketika diajak ikut kerja bakti.
Anak-anak Desa Cikadongdong justru memperlihatkan bahwa membangun kampung tidak selalu harus menunggu jabatan, anggaran besar, atau pidato panjang penuh janji. Kadang cukup dimulai dari tangan kecil yang rela kotor oleh debu dan lumpur.
Pembangunan jalan desa itu sendiri dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat serta memperlancar aktivitas warga sehari-hari. Jalan yang sebelumnya sulit dilalui diharapkan menjadi lebih kuat dan nyaman setelah proses pengerjaan selesai.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan anak-anak tersebut pun menuai apresiasi dari masyarakat sekitar. Banyak warga berharap sikap peduli lingkungan seperti ini terus dipertahankan agar budaya kebersamaan di desa tidak kalah oleh gaya hidup serba individual di era digital.