Berikut sumber pasokan bahan baku Pupuk Indonesia yang telah terdiversifikasi:
| Bahan Baku | Sumber Pasokan Utama | Sumber Alternatif |
|---|---|---|
| Fosfat (P) | Maroko, Tunisia, Aljazair (Afrika Utara) | - |
| Kalium (K) | Kanada, Laos | Di luar kawasan konflik |
| Sulfur (S) | UEA, Qatar, Kuwait | Kanada, Kazakhstan |
| Asam Sulfat | - | Pasokan domestik |
Dengan strategi ini, risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan karena sumber-sumber alternatif berada di luar kawasan konflik Timur Tengah.
Kebijakan Perpres 113/2025: Subsidi Lebih Efisien
Rahmad menjelaskan bahwa terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi telah mengubah mekanisme subsidi menjadi lebih efisien dan berbasis harga pasar .
Perubahan kebijakan ini memungkinkan Pupuk Indonesia melakukan pengadaan bahan baku dengan sistem pembayaran di muka (down payment) dari pemerintah. Hal ini menjadi kunci utama kelancaran distribusi di tengah gejolak global.
"Dengan mekanisme baru, pembayaran subsidi tidak lagi sepenuhnya dilakukan setelah barang diterima, melainkan sebagian telah diberikan di muka untuk mendukung kelancaran distribusi pupuk," jelas Rahmad.
Pemerintah menargetkan efisiensi anggaran subsidi pupuk sekitar 20 persen melalui Perpres 113/2025, yang dilakukan tanpa mengurangi akses petani terhadap pupuk bersubsidi.
Permintaan Pupuk Indonesia Melonjak di Pasar Global
Konflik geopolitik di Timur Tengah justru membawa peluang bagi Indonesia. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa setidaknya enam negara kini mengincar pupuk dari Indonesia, di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina .
"Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapa pun mereka bayar," kata Wamentan di sela Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Bali .