[Locusonline.co] Jakarta – Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi memastikan bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak naik meskipun terjadi gejolak di Selat Hormuz. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pupuk di dalam negeri demi mendukung produktivitas sektor pertanian.
"HET (pupuk subsidi sebelumnya) sudah turun 20 persen, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap," kata Rahmad dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
HET Pupuk Subsidi Tetap: Urea Rp1.800/kg, NPK Rp1.840/kg
Pemerintah sebelumnya telah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen, berlaku sejak Oktober 2025. Kebijakan ini merupakan bagian dari terobosan besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selama puluhan tahun harga pupuk cenderung naik setiap tahun atau dua tahun sekali, namun justru berhasil diturunkan berkat efisiensi anggaran.
Berikut rincian HET pupuk subsidi yang tetap dan tidak naik:
| Jenis Pupuk | HET Sebelumnya | HET Setelah Penurunan (Oktober 2025) | Per Sak (50kg) |
|---|---|---|---|
| Urea | Rp2.250/kg | Rp1.800/kg | Rp90.000 |
| NPK | Rp2.300/kg | Rp1.840/kg | Rp92.000 |
Kebijakan ini berlaku secara nasional dan telah berhasil meningkatkan penebusan pupuk secara signifikan.
Indonesia Tidak Terdampak Signifikan, Produksi Domestik Kuat
Rahmad memastikan bahwa meskipun Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia, gejolak di kawasan tersebut tidak mempengaruhi pasokan pupuk di dalam negeri. Indonesia tidak terdampak signifikan karena memiliki kapasitas produksi urea dalam negeri yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan nasional.
| Indikator | Kapasitas |
|---|---|
| Kapasitas produksi urea (operasional) | 8,8 juta ton/tahun |
| Kapasitas terpasang urea | 9,4 juta ton/tahun |
Dengan kapasitas tersebut, kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi maupun non-subsidi di dalam negeri diyakini dapat terpenuhi tanpa ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.