LOCUSonline, JAKARTA - Pedangdut Dewi Perssik akhirnya angkat suara setelah namanya dipakai oleh akun Facebook palsu yang tampil meyakinkan dengan centang biru layaknya akun resmi. Di era digital yang membuat siapa pun bisa terlihat asli hanya modal foto profil dan verifikasi abal-abal, Dewi mengaku bukan cuma dirugikan secara materi, tetapi juga kehilangan kepercayaan dari publik dan rekan bisnisnya.
Kasus ini mencuat setelah muncul akun Facebook yang mengatasnamakan Dewi Perssik dan aktif berinteraksi dengan pengikut, bahkan diduga melakukan berbagai promosi tanpa sepengetahuan sang artis. Bagi Dewi, persoalan ini bukan sekadar soal akun palsu biasa, melainkan sudah menyentuh reputasi dan kredibilitas yang ia bangun selama bertahun-tahun di dunia hiburan.
"Ini bukan orang yang sama ya, ini orang berbeda. Mungkin mereka melihat kasus sebelumnya selalu dimaafkan," ujar Dewi Perssik saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga: Film “Pesta Babi” Diprotes dan Nobar Dibubarkan, Pemerintah Tidak Sedang Razia Pikiran Mahasiswa
Penyanyi asal Jember itu menilai maraknya akun palsu di media sosial kini seperti pasar malam digital. Bedanya, yang dijual bukan barang murah, melainkan nama besar orang lain demi keuntungan pribadi. Ironisnya lagi, akun palsu tersebut tampil cukup meyakinkan hingga membuat sebagian klien dan masyarakat kesulitan membedakan mana akun resmi dan mana akun hasil ternak.
Akibatnya, sejumlah pihak disebut mulai ragu untuk berkomunikasi maupun bekerja sama karena takut tertipu. Situasi itu membuat Dewi merasa nama baiknya dipermainkan secara terang-terangan di ruang publik digital.
"Kerugian imateriilnya besar. Nama baik, kepercayaan, usaha juga kena dampaknya karena ada orang lain yang akhirnya jadi kurang percaya," katanya.
Tidak berhenti di situ, Dewi juga menyinggung maraknya berita hoaks yang sempat menyebut dirinya meninggal dunia. Fenomena ini memperlihatkan bahwa dunia maya kini semakin sulit dibedakan antara informasi dan halusinasi massal. Namun untuk sementara, Dewi memilih fokus menyelesaikan kasus pemalsuan identitas terlebih dahulu sebelum menindak penyebaran berita bohong lainnya.
Baca Juga: KUHP dan KUHAP Baru Dipuji Lebih Humanis, Bamsoet Ingatkan Aparat Jangan Lagi Jadikan Hukum Mesin
Kuasa hukum Dewi Perssik, Sandy Arifin, mengatakan kliennya selama ini sudah terlalu sering memilih jalur damai dalam berbagai kasus serupa. Namun kali ini, Dewi disebut sudah berada di titik lelah menghadapi penyalahgunaan identitas dan perundungan digital yang terus berulang.
Menurut Sandy, laporan polisi tetap dilanjutkan sebagai bentuk pembelajaran hukum agar media sosial tidak terus dijadikan tempat bebas memakai nama orang lain sesuka hati.
Pihak kepolisian sendiri dikabarkan telah mengantongi dua saksi serta sejumlah bukti digital yang dinilai cukup untuk mendalami kasus tersebut ke tahap berikutnya. Sementara itu, Dewi memilih lebih berhati-hati dan membatasi akses informasi pribadinya agar tidak kembali dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.
Kasus ini sekaligus menjadi potret keras dunia digital Indonesia hari ini, centang biru belum tentu asli, akun ramai belum tentu resmi, dan nama besar bisa diperjualbelikan semudah membuat status Facebook.*****