Ia menekankan pentingnya pengelolaan air secara bijak serta menjaga lingkungan, termasuk tidak membakar sampah sembarangan, kebiasaan lama yang sering kali baru disadari berbahaya ketika api sudah terlanjur membesar.
Menurut Asep, penurunan drastis debit air adalah konsekuensi yang hampir pasti terjadi dalam transisi menuju kemarau murni. Karena itu, masyarakat diminta mulai memetakan potensi risiko sejak dini, sebelum krisis benar-benar terasa.
Di tengah upaya percepatan ini, satu hal menjadi jelas bahwa bencana mungkin tak bisa dicegah, tetapi respons terhadapnya selalu menjadi cermin kesiapan sistem. Kadang cepat, kadang tersendat dan sering kali baru terasa serius setelah dampaknya nyata.
Namun setidaknya, kali ini pemerintah mencoba berlari lebih dulu meski tetap sambil memastikan administrasi tidak tertinggal di belakang.*****
Artikel Terkait
BMKG Keluarkan Peringatan Dini: Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang di Sejumlah Kota Besar!
Drainase Sempit Picu Banjir di Malangbong Garut, Akses Jalan Mulai Rusak Parah
Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Masuk KEN: Dari Karnaval Sejarah hingga Perputaran Uang Receh yang Dianggap “Ekonomi Kreatif”
Pelantikan Kepala Desa PAW di Garut: Kursi Kosong Terisi, Harapan Baru Dimulai dari Desa
Rapat Paripurna DPRD Garut Bahas LKPJ 2025: Antara Apresiasi, Catatan Kritis dan Janji Evaluasi yang Tak Boleh Sekadar Arsip
Program Gebrak Bambu di Garut, Saat Desa Didorong Mendunia, dari Anyaman ke Ambisi Pasar Global
Hari Otonomi Daerah 2026 di Garut: Dari Semangat Mandiri hingga PR Lama PAD dan SDM yang Tak Kunjung Lulus
Dugaan Pelanggaran Kode Etik ASN di PUPR Garut, GLMPK Soroti Lemahnya Komitmen Penegakan Disiplin ASN
Kakek 78 Tahun Pimpin Proyek Jalan TMMD Garut: Saat Negara Datang, Rakyat Sudah Lebih Dulu Bekerja
Jalan 1,6 Km di Garut Siap Resmi Jadi Milik Daerah, Administrasi Diperiksa, Aspal Ikut Disumpah Setia