LOCUSonline, GARUT - Hujan deras yang mengguyur wilayah Garut sejak sore hingga tengah malam kembali menguji ketahanan infrastruktur dan sekali lagi, warga yang lebih dulu lulus ujian.
Tembok Penahan Tanah (TPT) setinggi sekitar 3 meter dengan panjang 8 meter di Kampung Citalahab, Desa Cihaurkuning, ambruk dan menimbun sebagian badan jalan desa. Insiden ini terjadi pada Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 18.50 WIB.
Alih-alih menunggu alat berat atau prosedur panjang, warga setempat justru langsung bergerak cepat. Material longsoran yang sempat menutup setengah badan jalan berhasil dibersihkan secara gotong royong, membuat akses kembali bisa dilalui, setidaknya cukup untuk roda dua dan kendaraan kecil.
Menurut perangkat desa, Dodi Sudrajat, lokasi longsor berada di area pemakaman umum. Meski terdengar mengkhawatirkan, ia memastikan tidak ada makam yang terbawa longsor.
"Longsoran hanya terjadi di bibir area makam, jadi tidak sampai merusak pemakaman," ujarnya.
Kabar ini tentu menjadi satu-satunya kabar baik di tengah peristiwa yang kembali menegaskan bahwa hujan deras masih menjadi ujian rutin bagi infrastruktur desa.
Baca Juga: Skandal Etika ASN Garut, GLMPK : Inspektorat Jangan Terbawa “Dungu” Dinas PUPR Jadi Humas Swasta?
Dodi menjelaskan, setelah menerima laporan dari warga, ia bersama Kepala Desa langsung menuju lokasi. Namun, seperti yang kerap terjadi, aksi paling nyata justru datang dari warga yang lebih dulu bergerak tanpa menunggu komando formal.
Ketua RT, RW, dan masyarakat setempat bahu-membahu membersihkan material longsoran. Sebuah pemandangan yang sudah terlalu sering terjadi, ketika bencana datang, solidaritas warga selalu lebih siap daripada sistem.
Meski akses jalan kini sudah bisa dilalui, kejadian ini kembali memunculkan pertanyaan lama, seberapa siap infrastruktur desa menghadapi cuaca ekstrem yang makin sering terjadi?
TPT yang ambruk bukan sekadar struktur beton, melainkan simbol dari ketahanan yang masih perlu diperkuat agar warga tidak selalu menjadi tim darurat setiap kali hujan turun lebih lama dari biasanya.
Peristiwa ini mungkin berakhir tanpa korban jiwa, namun tetap menyisakan catatan penting. Di tengah keterbatasan, gotong royong masih menjadi solusi tercepat.
Sayangnya, jika kondisi ini terus berulang, maka gotong royong bisa berubah dari budaya menjadi kewajiban darurat yang tak pernah selesai.*****