LOCUSonline, GARUT - Upacara peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 di Kabupaten Garut berlangsung khidmat di Lapangan Sekretariat Daerah, Jalan Pembangunan, Tarogong Kidul. Namun di balik suasana formal tersebut, terselip pesan klasik yang terus diulang tiap tahun dimana daerah harus mandiri meski kadang masih sibuk memahami cara berdirinya sendiri.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menegaskan bahwa otonomi daerah adalah kebutuhan logis bagi negara sebesar Indonesia yang penuh keberagaman.
Menurutnya, dengan wilayah luas dan karakteristik daerah yang berbeda-beda, tidak semua urusan bisa atau seharusnya dikendalikan dari pusat.
"Setiap daerah punya potensi dan tantangan sendiri, sulit jika semuanya diatur terpusat," ujarnya dalam amanat upacara.
Secara konsep, otonomi daerah memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk bergerak lebih leluasa. Namun dalam praktik, kebebasan itu sering datang dengan catatan kaki, harus kreatif mencari pendapatan sendiri, tetapi tetap efisien dalam pengeluaran.
Bupati pun menyoroti peran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), terutama yang mengelola Pendapatan Asli Daerah (PAD), agar lebih progresif menggali potensi.
Pesannya jelas bahwa pendapatan harus meningkat, belanja harus hemat, hasilnya harus terasa. Sebuah kombinasi yang terdengar sederhana meski dalam praktik sering terasa seperti menyusun teka-teki tanpa gambar contoh.
Dalam pidatonya, Syakur juga mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran yang efisien namun tetap efektif. Sebuah prinsip yang hampir selalu muncul dalam setiap forum resmi, meski implementasinya kerap bergantung pada interpretasi masing-masing perangkat daerah.
"Pendapatan kita harus dimanfaatkan secara efisien, tapi tetap berdampak," ujarnya.
Tak hanya soal fiskal, perhatian juga diarahkan pada kualitas sumber daya manusia. Bupati mendorong aparatur sipil negara (ASN) untuk terus meningkatkan kompetensi dan menjadi bagian dari learning organization organisasi yang tidak berhenti belajar.
Ia bahkan menyinggung rutinitas rapat mingguan sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama. Sebuah pendekatan yang, dalam praktiknya, kadang lebih dikenal sebagai ritual Senin pagi daripada forum refleksi strategis.
Baca Juga: Dugaan Pelanggaran Kode Etik ASN di PUPR Garut, GLMPK Soroti Lemahnya Komitmen Penegakan Disiplin ASN
Peringatan Hari Otonomi Daerah sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum evaluasi sejauh mana daerah benar-benar mandiri, bukan hanya administratif tetapi juga substansial.
Di satu sisi, daerah dituntut inovatif dan responsif. Di sisi lain, tantangan struktural dan keterbatasan sumber daya masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Artikel Terkait
Pelantikan Kepala Desa PAW di Garut: Kursi Kosong Terisi, Harapan Baru Dimulai dari Desa
Program Gebrak Bambu di Garut, Saat Desa Didorong Mendunia, dari Anyaman ke Ambisi Pasar Global
Hari Otonomi Daerah 2026 di Garut: Dari Semangat Mandiri hingga PR Lama PAD dan SDM yang Tak Kunjung Lulus
Dugaan Pelanggaran Kode Etik ASN di PUPR Garut, GLMPK Soroti Lemahnya Komitmen Penegakan Disiplin ASN
Kakek 78 Tahun Pimpin Proyek Jalan TMMD Garut: Saat Negara Datang, Rakyat Sudah Lebih Dulu Bekerja
Jalan 1,6 Km di Garut Siap Resmi Jadi Milik Daerah, Administrasi Diperiksa, Aspal Ikut Disumpah Setia
Dana Darurat Rp7,5 Miliar Digelontorkan, Infrastruktur Garut Dikebut: Bencana Datang, Birokrasi Berusaha Lari Lebih Cepat
Bupati Garut Sidak Dinsos: Negara Jangan Hanya Hadir di Spanduk, Tapi Juga Saat Banjir dan Bantuan Datang
Aplikasi Sagarut Diluncurkan: Bupati Garut Ingin Keluhan Warga Tak Lagi Nyasar di Kolom Komentar
Skandal Etika ASN Garut, GLMPK : Inspektorat Jangan Terbawa “Dungu” Dinas PUPR Jadi Humas Swasta?